"Pengalaman yang sangat berharga dalam mengajar itu tak bisa dibeli!" begitu kalimat yang aku resapi dari Pak Human selaku kepala sekolah sma muhiba ketika acara penutupan ppl kemarin. Sungguh mengharukan,, rasanya ingin sekali menyalami beliau, mencium tangan beliau penuh hormat dan mengucapkan kata "trimakasih" sedalam-dalamnya. Namun enggan, kesempatan tak datang padaku untuk melakukannya. terlalu malu rasanya.
kembali aku merekam berbagai ulah siswa di kelas dan tingkah mereka yang parah, keluhan guru2 tentang mereka dan kemarahan guru saat memberi sanksi kepada mereka di kantor. bolos, terlambat, kabur dari kelas saat pelajaran, tidur di kelas, tak memperhatikan guru serta tak mau mengerjakan tugas. dibalik rekaman di otakku yang merasa "prihatin" dengan kondisi siswa-siswi sma muhiba. ternyata menyimpan pengalaman luar biasa yang sungguh benar kata pak Human,, tak bisa dibeli!
Guru. tugas Guru sungguh berat. bayangkan saja,, guru yang sudah puluhan tahun mengajar saja masih kesulitan untuk bisa mengkondisikan kelas. sebab beragamnya sifat dan sikap siswa yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman yang semakin canggih turut membuat guru kalang kabut memahami kemauan siswa. seperti yang pernah ku katakan bahwa "menaklukkan hati siswa" akan terus menjadi pr guru sepanjang masa.. sebab guru-lah yang banyak dituntut untuk mengerti siswa-siswinya agar pembelajaran berjalan dengan lancar.
Guru yang banyak dituntut untuk dapat mengemban amanah "mencerdaskan kehidupan bangsa" ini memang membuat Guru sangat diperhatikan oleh pemerintah. namun kata "perhatian" dari pemerintah ini masih perlu dipertanyakan. sebab pemerintah justru lebih suka memperhatikan gaji anggota DPR yang sering korupsi, tidur dan rusuh saat rapat dari pada gaji guru yang selalu berkorban demi anak-anak calon pemimpin bangsa ini.
Guru..oh Guru. meski ia selalu dibingungkan oleh kemauan pemerintah baik tentang kurikulum mupun kebijakan2 pendidikan lainnya, namun guru tak pernah protes, mengeluh apalagi demo. guru tetaplah guru yang digugu dan ditiru.
saat seorang kawanku memanggilku dengan kata "Bu Guru" ,,aku merenung dan merenung. pantaskah aku dipanggil demikian?. aku sendiri masih galau antara jadi guru atau pengusaha. namun kemauan orang tuaku bulat. aku harus jadi guru. namun dengan seabreg pr guru dan amanah2nya yang tak mudah membuatku berfikir...tak bisalah dibarengi dengan berwirausaha. sebab aku kalo jadi guru aku ingin harus profesional. apalagi aku guru pai. pertanggungjawabannya sampai ke akherat...belum lagi kursus bahasa arab dan mencicipi dunia pesantren yang seharusnya aku lakoni jika aku menginginkan jadi guru pai yang profesional. ditambah dengan fluktuasi imanku yg naik turun ini....mungkinkah dan bisakah panggilan "Bu Guru" ini bukan hanya sekedar formalitas belaka??
usiaku kini sudah menginjak 22 tahun. bukan cukup muda lagi untuk seorang gadis. aku juga butuh dan harus mempersiapkan diri tuk menjadi calon ibu yang baik buat anak-anakku kelak. dengan begitu,, eh. iya ya,, bukankah dengan begitu... menjadi seorang guru itu merupakan sebuah keniscayaan. mau tak mau,, aku harus menjadi seorang guru pula bagi anak-anakku kelak. kemudian untuk mempersiapkannya juga butuh proses,,. lantas ketika aku memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha dan enggan menjadi guru. bukankah sama saja,, aku juga harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang guru. toh,, ga mungkin juga ketika aku hidup di masyarakat lalu meninggalkan jalan dakwah yang memang sudah menjadi keniscayaan bagiku??
lalu kenapa aku sekarang harus galau untuk menentukan pilihan jadi guru atau pengusaha? bukankah dua-duanya adalah peng"usaha" yang meng"usaha"kan "usaha"nya untuk menjadi hamba Allah yang baik. jika demikian,, Jalani saja..!! jalani apa yang ada dihadapanku.. semampuku.. sembari bertawakal pada Allah. hidup, rejeki, jodoh, mati sudah ditentukan oleh-NYA. kita sebagai hamba hanya berkewajiban untuk menjemputnya dengan usaha dan doa. Jangan lupa untuk meminta restu sama kedua orang tua dan bertarget.
pertama, yang harus kulakukan sekarang adalah... memperbaiki hubunganku dengan Allah. kemudian menyelesaikan segala perkara dengan sesama manusia... perbaikilah silaturahimku dengan setiap orang yang ku kenal. termasuk masalah badko, hmj, nengok utii*, berkunjung ke rumah sahabat, melunasi segala hutang, dan menyelesaikan segala hal yang tampak mengganjal di hati.
memperbaiki hubunganku dengan lingkungan, keluarga dan merawat rumah ini agar menjadi rumahku..surgaku...
yang paling penting.. memperbaiki hubungan diri dengan diri sendiri. berdamai dengan masalalu, disiplin, bersyukur dan bersemangat. tak ada yang menakutkan di dunia ini, karena yang kutakutkan adalah Allah.. yang kutakutkan adalah ketika aku jauh dari-NYA. tak ada yang ditakutkan di dunia ini kecuali hanya sikap dan sifat diri sendiri.
*)tulisan ini kubuat setelah dari muhiba pada tanggal 5 Desember 2014 sebelum uti meninggal. Astaghfirullohala'dzim.....
Jumat, 19 Desember 2014
Senin, 15 Desember 2014
Antara Masalah Kurikulum 2013 dan“Bhineka Tunggal Ika” ?
Mendengar hiruk pikuk pergantian pembatalan kurikulum 2013,, jadi teringat celoteh yang pernah saya tulis beberapa bulan yang lalu saat Muhammad Nuh masih menjabat. Mungkin celoteh ini pernah dibaca oleh pak Anis Baswedan*hahaha. Berikut celoteh saya:
Antara Masalah Kurikulum 2013 dan“Bhineka Tunggal Ika” ?
Gonta-ganti kurikulum sudah menjadi masalah klasik pendidikan di Indonesia. Seharusnya, bukan menjadi masalah tapi ini menjadi kemajuan pendidikan di Indonesia, karena memang zaman berubah, dunia berubah, begitupun kurikulum yang memang seharusnya dinamis mengikuti perkembangan zaman. Wajarlah, kurikulum berubah. Namun, realitasnya kurikulum masih “istiqomah” menjadi permasalahan yang tiada usainya. Bagaimana tidak, untuk seukuran negara kita yang Bhineka tunggal Ika gonta-gantinya kurikulum kita ini keterlaluan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana penerapan Kurikulum 2013 dinilai masih mentah. Masih banyak detil kolaborasi rencana konseptual dan praktik yang belum jelas, bahkan cenderung merugikan para pengajar dan siswa sendiri.
Masalah kurikulum 2013 ini, seperti membuat Indonesia tak lagi disebut sebagai “Bhineka Tunggal Ika”. Seakan-akan gonta-gantinya kurikulum kita ini tidak mentolerir kebhinekaan dan terlalu “dipaksakan” untuk tunggal ika. Energi yang dibutuhkan untuk mensosialisasikan kurikulum sebelumnya saja masih belum pulih, sudah diganti kurikulum baru yang butuh waktu yang tak sedikit untuk mensosialisasikannya kembali. Bukan pekerjaan yang gampang untuk menyesuaikan kurikulum dengan keadaan di lapangan pendidikan di Indonesia yang super beragam. Bukankah seharusnya kurikulum yang mampu memahami kebinekaragaman negara sendiri, bukan malah memaksakannya menjadi sesuai sama rata dengan satu kurikulum 2013 tersebut.
Metrotvnews.com, Jakarta: Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memantau pelatihan guru dan persiapan implementasi Kurikulum 2013 di 17 kabupaten/kota dari 10 provinsi di Tanah Air. Hasilnya, kegagalan sistemik pelatihan guru dan sejumlah masalah krusial implementasi Kurikulum 2013 ditemukan. "Perubahan mindset guru tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, butuh waktu bertahun-tahun. Padahal Kurikulum 2013 akan dilaksanakan dalam waktu secepatnya. Perubahan itu dilakukan dengan mendorong guru untuk terus belajar," kata Sekjen FSGI, Retno Listyarti.
Kurikulum diganti secara serta merta. Dalam “tempo yang sesingkat-singkatnya” seperti proklamasi. Sehingga menimbulkan kekagetan bagi para pelaku pendidikan seperti para kepala sekolah, para guru, dan para siswa. Kurikulum 2013 hingga kini masih belum jelas kapan diterapkannya. Ada sekolah yang sudah menerapkan, ada yang belum. Hilir mudik sosialisasi tentang kurikulum 2013 masih berserakan disana-sini. Buku-buku kurikulum 2013 masih dalam masa penyusunan, percetakan dan pendistribusian. Hey! Ini sudah tahun 2014. Bila tidak siap diterapkan di tahun 2013, kenapa tidak diganti saja dengan “kurikulum 2014” atau bahkan mungkin kurikulum “2015, 2016, atau 2017” ?. Singkat cerita, kurikulum kita ini memang kurang persiapan.
Berkaca pada Negara yang lebih maju dari Indonesia, seperti Inggris. Tahap sosialisasi untuk perubahan kurikulum 2014 telah di-online-kan sejak 2011. Tujuannya, bahan-bahan yang telah disusun memperoleh tanggapan public dan para praktisi pendidikan dapat mempersiapkan diri. Sekolah juga memiliki kesiapan yang relative cukup untuk menyiapkan sarana dan prasarana. Idealnya, sebelum masukan (peer review) tetang hal-hal yang perlu antisipasi. Dengan demikian kurikulum di Indonesia terlihat sangat sentralistik dan serba tergesa-gesa (KR)
Seharusnya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan kesiapan lapangan sebelum kurikulum diganti. Evaluasi yang signifikan dan persiapan yang matang. Bukan dengan cara yang terkesan dipaksa untuk berganti. Kurikulum seperti hanya dievaluasi para pengampu kebijakan tanpa mendengarkan celoteh kesusahan di lapangan yang beragam kemudian diakhiri dengan kesimpulan “menurut hemat saya…bla.. bla.. bla..”. Lalu bergantilah kurikulum di Indonesia ini dengan “Kurikulum menurut hemat pengampu kebijakan Pemerintah”. Sebagian orang kagum dengan konsep dan iming-imingan bila nanti kurikulum baru ini sukses, sebagian yang lain tak percaya, sebagian yang lain menganggap itu semua sebagai sampah permainan politik.
“Bhineka Tunggal Ika” masih menjadi lambang Negara kita. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua itulah Indonesia. Pro dan kontra masalah kurikulum 2013 memang masih bergema disana-sini. Namun, ketimpangan ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menghargai kebhinekaan dan memaksakan kehendak sendiri untuk bersatu sesuai dengan kehendak kemauan sendiri.
Pada dasarnya, pemerintah perlu meninjau ulang dalam mempersiapkan kurikulum 2013 agar tidak terkesan tidak mentolerir ke-bhinekaan Negara sendiri dan dipaksa untuk menjadi kemauan tunggal, sesuai kehendak kurikulum 2013 begitu saja. Namun lebih memikirkan proses persiapan di lapangan agar kurikulum 2013 tidak menjadi momok di masyarakat.
Seharusnya tulisan ini inginnya berorientasi pada solusi. Mengingat masalah pendidikan di Indonesia yang kian kompleks, fasilitas pendidikan saja masih belum merata. Gedung-gedung sekolah sampai hari ini masih banyak yang memprihatikan. Tapi pada kenyataannya masalah berorientasi pada pemerintah. Bagaimana kita mau berbicara tentang solusi bila central problem-nya ada pada pemerintah. Kita begini, pemerintah begitu. Jadilah kita harus berbicara tentang realitas. Ujung-ujungnya tentang kritikan terhadap pemerintah kita harus angkat bicara. Mengkritisi itu memang lebih meng-asyikkan daripada pusing-pusing mikirin solusi. Dan kemudian celoteh terakhir dari tulisan saya berkata bahwa solusi yang paling tepat adalah “Jadilah Menteri Pendidikan!” haha.*Anehdot.
Kini solusi itu telah dicanangkan oleh Pak Anis Baswedan. Mungkin, beliau takut kalo nanti saya beneran maju jadi menteri pendidikan beneran*gubrag. Just Intermezo....
Antara Masalah Kurikulum 2013 dan“Bhineka Tunggal Ika” ?
Gonta-ganti kurikulum sudah menjadi masalah klasik pendidikan di Indonesia. Seharusnya, bukan menjadi masalah tapi ini menjadi kemajuan pendidikan di Indonesia, karena memang zaman berubah, dunia berubah, begitupun kurikulum yang memang seharusnya dinamis mengikuti perkembangan zaman. Wajarlah, kurikulum berubah. Namun, realitasnya kurikulum masih “istiqomah” menjadi permasalahan yang tiada usainya. Bagaimana tidak, untuk seukuran negara kita yang Bhineka tunggal Ika gonta-gantinya kurikulum kita ini keterlaluan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana penerapan Kurikulum 2013 dinilai masih mentah. Masih banyak detil kolaborasi rencana konseptual dan praktik yang belum jelas, bahkan cenderung merugikan para pengajar dan siswa sendiri.
Masalah kurikulum 2013 ini, seperti membuat Indonesia tak lagi disebut sebagai “Bhineka Tunggal Ika”. Seakan-akan gonta-gantinya kurikulum kita ini tidak mentolerir kebhinekaan dan terlalu “dipaksakan” untuk tunggal ika. Energi yang dibutuhkan untuk mensosialisasikan kurikulum sebelumnya saja masih belum pulih, sudah diganti kurikulum baru yang butuh waktu yang tak sedikit untuk mensosialisasikannya kembali. Bukan pekerjaan yang gampang untuk menyesuaikan kurikulum dengan keadaan di lapangan pendidikan di Indonesia yang super beragam. Bukankah seharusnya kurikulum yang mampu memahami kebinekaragaman negara sendiri, bukan malah memaksakannya menjadi sesuai sama rata dengan satu kurikulum 2013 tersebut.
Metrotvnews.com, Jakarta: Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memantau pelatihan guru dan persiapan implementasi Kurikulum 2013 di 17 kabupaten/kota dari 10 provinsi di Tanah Air. Hasilnya, kegagalan sistemik pelatihan guru dan sejumlah masalah krusial implementasi Kurikulum 2013 ditemukan. "Perubahan mindset guru tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, butuh waktu bertahun-tahun. Padahal Kurikulum 2013 akan dilaksanakan dalam waktu secepatnya. Perubahan itu dilakukan dengan mendorong guru untuk terus belajar," kata Sekjen FSGI, Retno Listyarti.
Kurikulum diganti secara serta merta. Dalam “tempo yang sesingkat-singkatnya” seperti proklamasi. Sehingga menimbulkan kekagetan bagi para pelaku pendidikan seperti para kepala sekolah, para guru, dan para siswa. Kurikulum 2013 hingga kini masih belum jelas kapan diterapkannya. Ada sekolah yang sudah menerapkan, ada yang belum. Hilir mudik sosialisasi tentang kurikulum 2013 masih berserakan disana-sini. Buku-buku kurikulum 2013 masih dalam masa penyusunan, percetakan dan pendistribusian. Hey! Ini sudah tahun 2014. Bila tidak siap diterapkan di tahun 2013, kenapa tidak diganti saja dengan “kurikulum 2014” atau bahkan mungkin kurikulum “2015, 2016, atau 2017” ?. Singkat cerita, kurikulum kita ini memang kurang persiapan.
Berkaca pada Negara yang lebih maju dari Indonesia, seperti Inggris. Tahap sosialisasi untuk perubahan kurikulum 2014 telah di-online-kan sejak 2011. Tujuannya, bahan-bahan yang telah disusun memperoleh tanggapan public dan para praktisi pendidikan dapat mempersiapkan diri. Sekolah juga memiliki kesiapan yang relative cukup untuk menyiapkan sarana dan prasarana. Idealnya, sebelum masukan (peer review) tetang hal-hal yang perlu antisipasi. Dengan demikian kurikulum di Indonesia terlihat sangat sentralistik dan serba tergesa-gesa (KR)
Seharusnya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan kesiapan lapangan sebelum kurikulum diganti. Evaluasi yang signifikan dan persiapan yang matang. Bukan dengan cara yang terkesan dipaksa untuk berganti. Kurikulum seperti hanya dievaluasi para pengampu kebijakan tanpa mendengarkan celoteh kesusahan di lapangan yang beragam kemudian diakhiri dengan kesimpulan “menurut hemat saya…bla.. bla.. bla..”. Lalu bergantilah kurikulum di Indonesia ini dengan “Kurikulum menurut hemat pengampu kebijakan Pemerintah”. Sebagian orang kagum dengan konsep dan iming-imingan bila nanti kurikulum baru ini sukses, sebagian yang lain tak percaya, sebagian yang lain menganggap itu semua sebagai sampah permainan politik.
“Bhineka Tunggal Ika” masih menjadi lambang Negara kita. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua itulah Indonesia. Pro dan kontra masalah kurikulum 2013 memang masih bergema disana-sini. Namun, ketimpangan ini jangan dijadikan alasan untuk tidak menghargai kebhinekaan dan memaksakan kehendak sendiri untuk bersatu sesuai dengan kehendak kemauan sendiri.
Pada dasarnya, pemerintah perlu meninjau ulang dalam mempersiapkan kurikulum 2013 agar tidak terkesan tidak mentolerir ke-bhinekaan Negara sendiri dan dipaksa untuk menjadi kemauan tunggal, sesuai kehendak kurikulum 2013 begitu saja. Namun lebih memikirkan proses persiapan di lapangan agar kurikulum 2013 tidak menjadi momok di masyarakat.
Seharusnya tulisan ini inginnya berorientasi pada solusi. Mengingat masalah pendidikan di Indonesia yang kian kompleks, fasilitas pendidikan saja masih belum merata. Gedung-gedung sekolah sampai hari ini masih banyak yang memprihatikan. Tapi pada kenyataannya masalah berorientasi pada pemerintah. Bagaimana kita mau berbicara tentang solusi bila central problem-nya ada pada pemerintah. Kita begini, pemerintah begitu. Jadilah kita harus berbicara tentang realitas. Ujung-ujungnya tentang kritikan terhadap pemerintah kita harus angkat bicara. Mengkritisi itu memang lebih meng-asyikkan daripada pusing-pusing mikirin solusi. Dan kemudian celoteh terakhir dari tulisan saya berkata bahwa solusi yang paling tepat adalah “Jadilah Menteri Pendidikan!” haha.*Anehdot.
Kini solusi itu telah dicanangkan oleh Pak Anis Baswedan. Mungkin, beliau takut kalo nanti saya beneran maju jadi menteri pendidikan beneran*gubrag. Just Intermezo....
Rabu, 10 Desember 2014
baiklah, aku akan memulai "percakapan" dengan diri sendiri ini...
tadi aku bertemu dengan seorang kawan imm. pertanyaan yang paling menohok adalah "kenapa kamu tak mau bergabung lagi dengan kami di IMM?" lalu kujawab "daripada aku tak amanah dlm menjalaninya lebih baik aku tak menjabatnya" dia pun melanjutkan pertanyaannya yang paling nyesek "lhaa ini sekarang kamu amanah di kiai" ..."masalahnya ini bukan tawaran, tapi ditunjuk maka aku harus menunaikannya"... percakapan dilanjutkan dengan bahasan2 komsat fai dan cabang.
dari pertemuanku dengan kawanku dan ketua imm komsat fai tadi.. membekas dibenakku yang membuatku merasa terusik kembali dengan memoar diskusi dengan sahabatku dari UNS dulu tentang aktivis kampus dan masyarakat juga tentang mahasiswa sebagai konseptor atau eksekutor dan mana kedudukan yang sejatinya lebih "tinggi".
entah apa yang tengah dibincangkan oleh para aktivis imm sejawatku ketika aku memutuskan untuk tak lagi berkecimpung dalam aktivitas ke-imm-an.. aku memiliki jawaban yang logis namun entah kenapa jawaban ini masih sering dianggap sebagai "alasan",, padahal sejatinya ini adalah sebuah realisasi daripada apa yang pernah didapatkan selama menjadi kader imm...
kenapa ? karena itulah yang kurasakan. mungkin bagi para aktivis yang bukan asli Jogja, masih belum bisa memahami makna dibalik pilihan kami sebagai aktivis juga di daerah sendiri. Padahal kami sedang melanjutkan "trilogi IMM".
eksekutor atau konseptor?? mungkin ini sama artinya dengan mempertanyakan jadi pengusaha atau jadi guru?? . dan jawabannya ada pada nurani dan jiwa diri sendiri untuk memahami apa yang sedang dicari dan diinginkan. kemuadian, lakukan yang terbaik. itu saja.
masalah isu2 ttg pendidikan sekarang ini....ah. besok saja kulanjutkan. *pengen istirahat
Minggu, 30 November 2014
hay sore? hayyy tanggal 30 november.....? kau yg sll kunanti diantara 11 temanmu yg lain,,, aku merasa senang bisa melewatimu... november. bulan yang penuh dengan gejolak/geplak di hidupku. eh...tunggu. geplak? atau gejolak? kalo geplak berarti manis kalo gejolak itu berarti fluktuasi naik turun... ah . entahlah mungkin juga dua-duanya. ya kau memang bulan penuh warna dihidupku. tapi kau pula yang membuatku melewati tanggal lahirku sehingga bertambahlah 1 kepala yang terasa 'berat' bagiku.
Kadang aku berfikir. mungkinkah mental juara itu dilahirkan dan hanya orang2 yang terbiasa juara saja yang dapat sukses??
sekali lagi ku tanya sang juara itu dilahirkan atau dibentuk ? biasanya,, orang yang juara sedari kecil akan terus juara hingga kuliah...
ow,,, bukan itu ternyata. mental juara dapat dibentuk. ketika seseorang dapat mengubah sebuah rasa takut menjadi tantangan...kemudian terus berusaha menjadi Juara tanpa pernah putus asa itulah yang disebut dengan mental juara.
Mental juara tak harus sll juara,, tapi menghargai tiap prestasi,, bahkan terkecil dalam hidup untuk membuat prestasi yang lebih besar dalam hidup. so,, tiap orang adalah juara / sang pemenang. Jadi bentuklah mental juara dalam dirimu.. karena itu adalah modal untuk mengantarmu pada kemenangan sejati dalam hidup.
*membuka mata membuka hati membuka pikiran tuk melewati desember lebih ber-SEMANGAT. Bismillah............ Semangat pagi Desember............. :)
Selasa, 25 November 2014
Balada di Hari Guru
sudah lama kutak mengotak-atik blogku yg gersang ini. ya, aku tetap si owner
write adventure,, sebab biasanya aku menulis dengan pena dan kertas. nah kali
ini aku ingin mengetik... dan mungkin ini dan nanti....
hayy.. Guru. apa kabarmu? masihkah gajimu bisa untuk memenuhi tank bensin sepeda motor bututmu di tanggal yang sudah mulai menua ini.....ah, Guru. pasti kenaikan BBM yang belum lama divoniskan oleh Jokowi itu cukup mengkagetkan dirimu..... ya begitulah Ru, kau sama denganku yang harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Tapi tentu kau lebih lapang dari padaku. sebab beberapa kali aku sempat mau nekat ikut demo menolak kenaikan BBM, namun tak jadi dan aku malah jatuh sakit. Jadilah lagu darah juang hanya kunyanyikan di atas tempat tidur. berbeda dengan kau, yang selalu "legowo" dan tak pernah mau protes. GuRu "diGuGu lan ditiRu" masih selalu melekat dari dalam sanubarimu,, sehingga kaulah warga negara yang paling dihormati siapapun juga dan paling dicintai oleh pemerintah. Namun sayang kata "cinta" dari pemerintah itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan yang diberikannya kepadamu. Pemerintah lebih suka mensejahterahkan anggota DPR yang kadang tidur atau rusuh saat rapat.
Saat buruh menuntut kenaikan gaji, mereka demo besar-besaran. Disaat mahasiswa geram dengan sikap pemerintah yang se-wena-wena, mahasiswa demo. hanya kau, Guru.. yang hampir tak pernah kulihat demo karena kurikulum yang terus bergonta-ganti, atau gajimu yang masih minim. Kau memang hebat guru, kau lebih memilih menjaga kewibawaan dihadapan murid-muridmu daripada harus menuntut pemerintah.
di hari yang sangat baik yang bernama hari guru ini.... aku ingin mengucapkan ribuan TRIMAKASIHKU kepada guru-guruku tercinta.... guru tk ku Ibu Anik guru sd ku.. Bu Mus yang mengajariku membaca dan menulis kalo diinget inget...Bu Musku itu dulu mirip sekali dengan Bu Mus di Laskar Pelangi...beliau memakai sepeda dan jilbab model khas Bu Mus. Kepada Bu Muji, Pak Ngalimun, Bu Sayekti, Bu Tatik seorang guru agama yang sampai sekarang masih sering menyapaku dengan "Besok menggantikan ibu kalo ibu sudah pensiun ya Nak?", Pak Jarim guru olahraga waktu sd yang sampai sekarang masih sering menyapaku lewat senyuman khas, pertanyaan tentang kabar lengkap dengan kumis khasnya ketika ku sedang menjemput adikku di sd muhammadiyah "langganan" ayahku itu. Kepada semua guru SMPku...diantaranya pak Suhas, guru sejarah yang paling ganteng dan SMAku.... Bu Darmi guru oleahraga yang sudah tua namun masih sangat energik dan semangat, pak Mul di bagian waka kesiswaan yang sering dibicarakan anak osis dan rohis karena sering ‘seret’ kalo dimintai uang sekolah untuk kepentingan organisasi tapi baik hati sebab selalu memberi nilai lebih untukku.hehe. Bu Indri... Guru Fisika yang Muslimah sangat berkesan dihatiku, apalagi sampai sekarang beliau juga masih sangat peduli pada adik2 rohisku.. sempat mengundangku juga untuk memberi motivasi pada adik-adikku itu... oh. maaf bu Indri, kalo dulu aku tak paham-paham bagaimana menghitung bola yang di lempar dengan waktu sekian dan gerakan demikian dan lain sebagainya. tapi dulu juga saya berfikiran,, sebenarnya untuk apa menghitung bola yang di lempar atau jatuh? Pentingkah? Ah. Konyol.. masih ingat nilai ulangan fisikaku 4! haha. parah...
ha malah bernostalgia… yang jelas ucapan maaf dan trimakasih ku untuk guru-guruku begitu dalam ku kucapkan. Dengan lagu “Trimakasihku” yang super mengharukan itu. kau taukan?. Dan lagu sorry, I can’t be perfect nya simple plan kalo itu untuk ayah.. ini khusus untuk GURU. Hiks… maaf guru-guruku,, rasanya aku ingin sekali mengunjungimu dan mengobrol langsung dihadapanmu… maafkan aku yang mungkin belum sesempurna harapanmu. Hiks.. hiks.. akuh..aku tak bisa membalas semua jasa-jasamu….Guru… semua yang pernah kau berikan membuatku selalu berproses menjadi lebih dewasa hingga kini ku seperti diriku yang sekarang.
Meski aku tak secerdas dian yang selalu juara kelas dan ditrima di UGM tapi aku masih bisa berbagi ilmu dengan anak-anak tpa, berbagi ilmu dengan mahasiswa baru yang sedang wajib nyantri di kyai umy meski masih banyak yang harus ku pelajari lagi. Tapi… ku rasa dari semua yang kulakukan itu juga tak luput dari peran guru-guruku yang dulu selalu berkata bahwa dalam hidup bukan tentang kecerdasan dan iQ yang tinggi yang diperlukan, tapi pandai dalam membawa diri dan pandai bersosialisasi justru lebih penting yang dulu kukira hanya sebagai hiburan bagi orang-orang yang memiliki otak pas-pasan sepertiku ternyata….itu terbukti.
Aku justru lebih bahagia sekarang, dengan jurusanku, dengan kesibukanku, dengan hidupku. Alhamdulillah sudah semester 7. Aku sangat bersyukur dapat kuliah di UMY jurusan PAI ini guru,,, doakan aku Guru-Guruku.. agar ku dimudahkan dalam segala urusanku, agarku bisa dengan cepat dan tepat menyelesaikan skripsiku. Amiin. Agar segera juga aku bisa menyusulmu menjadi seorang GURU. Meski sekarang aku masih galau dengan pertanyaan “pantaskah?” untuk diriku sendiri….tapi aku harus memetakannya.
hayy.. Guru. apa kabarmu? masihkah gajimu bisa untuk memenuhi tank bensin sepeda motor bututmu di tanggal yang sudah mulai menua ini.....ah, Guru. pasti kenaikan BBM yang belum lama divoniskan oleh Jokowi itu cukup mengkagetkan dirimu..... ya begitulah Ru, kau sama denganku yang harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Tapi tentu kau lebih lapang dari padaku. sebab beberapa kali aku sempat mau nekat ikut demo menolak kenaikan BBM, namun tak jadi dan aku malah jatuh sakit. Jadilah lagu darah juang hanya kunyanyikan di atas tempat tidur. berbeda dengan kau, yang selalu "legowo" dan tak pernah mau protes. GuRu "diGuGu lan ditiRu" masih selalu melekat dari dalam sanubarimu,, sehingga kaulah warga negara yang paling dihormati siapapun juga dan paling dicintai oleh pemerintah. Namun sayang kata "cinta" dari pemerintah itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan yang diberikannya kepadamu. Pemerintah lebih suka mensejahterahkan anggota DPR yang kadang tidur atau rusuh saat rapat.
Saat buruh menuntut kenaikan gaji, mereka demo besar-besaran. Disaat mahasiswa geram dengan sikap pemerintah yang se-wena-wena, mahasiswa demo. hanya kau, Guru.. yang hampir tak pernah kulihat demo karena kurikulum yang terus bergonta-ganti, atau gajimu yang masih minim. Kau memang hebat guru, kau lebih memilih menjaga kewibawaan dihadapan murid-muridmu daripada harus menuntut pemerintah.
di hari yang sangat baik yang bernama hari guru ini.... aku ingin mengucapkan ribuan TRIMAKASIHKU kepada guru-guruku tercinta.... guru tk ku Ibu Anik guru sd ku.. Bu Mus yang mengajariku membaca dan menulis kalo diinget inget...Bu Musku itu dulu mirip sekali dengan Bu Mus di Laskar Pelangi...beliau memakai sepeda dan jilbab model khas Bu Mus. Kepada Bu Muji, Pak Ngalimun, Bu Sayekti, Bu Tatik seorang guru agama yang sampai sekarang masih sering menyapaku dengan "Besok menggantikan ibu kalo ibu sudah pensiun ya Nak?", Pak Jarim guru olahraga waktu sd yang sampai sekarang masih sering menyapaku lewat senyuman khas, pertanyaan tentang kabar lengkap dengan kumis khasnya ketika ku sedang menjemput adikku di sd muhammadiyah "langganan" ayahku itu. Kepada semua guru SMPku...diantaranya pak Suhas, guru sejarah yang paling ganteng dan SMAku.... Bu Darmi guru oleahraga yang sudah tua namun masih sangat energik dan semangat, pak Mul di bagian waka kesiswaan yang sering dibicarakan anak osis dan rohis karena sering ‘seret’ kalo dimintai uang sekolah untuk kepentingan organisasi tapi baik hati sebab selalu memberi nilai lebih untukku.hehe. Bu Indri... Guru Fisika yang Muslimah sangat berkesan dihatiku, apalagi sampai sekarang beliau juga masih sangat peduli pada adik2 rohisku.. sempat mengundangku juga untuk memberi motivasi pada adik-adikku itu... oh. maaf bu Indri, kalo dulu aku tak paham-paham bagaimana menghitung bola yang di lempar dengan waktu sekian dan gerakan demikian dan lain sebagainya. tapi dulu juga saya berfikiran,, sebenarnya untuk apa menghitung bola yang di lempar atau jatuh? Pentingkah? Ah. Konyol.. masih ingat nilai ulangan fisikaku 4! haha. parah...
ha malah bernostalgia… yang jelas ucapan maaf dan trimakasih ku untuk guru-guruku begitu dalam ku kucapkan. Dengan lagu “Trimakasihku” yang super mengharukan itu. kau taukan?. Dan lagu sorry, I can’t be perfect nya simple plan kalo itu untuk ayah.. ini khusus untuk GURU. Hiks… maaf guru-guruku,, rasanya aku ingin sekali mengunjungimu dan mengobrol langsung dihadapanmu… maafkan aku yang mungkin belum sesempurna harapanmu. Hiks.. hiks.. akuh..aku tak bisa membalas semua jasa-jasamu….Guru… semua yang pernah kau berikan membuatku selalu berproses menjadi lebih dewasa hingga kini ku seperti diriku yang sekarang.
Meski aku tak secerdas dian yang selalu juara kelas dan ditrima di UGM tapi aku masih bisa berbagi ilmu dengan anak-anak tpa, berbagi ilmu dengan mahasiswa baru yang sedang wajib nyantri di kyai umy meski masih banyak yang harus ku pelajari lagi. Tapi… ku rasa dari semua yang kulakukan itu juga tak luput dari peran guru-guruku yang dulu selalu berkata bahwa dalam hidup bukan tentang kecerdasan dan iQ yang tinggi yang diperlukan, tapi pandai dalam membawa diri dan pandai bersosialisasi justru lebih penting yang dulu kukira hanya sebagai hiburan bagi orang-orang yang memiliki otak pas-pasan sepertiku ternyata….itu terbukti.
Aku justru lebih bahagia sekarang, dengan jurusanku, dengan kesibukanku, dengan hidupku. Alhamdulillah sudah semester 7. Aku sangat bersyukur dapat kuliah di UMY jurusan PAI ini guru,,, doakan aku Guru-Guruku.. agar ku dimudahkan dalam segala urusanku, agarku bisa dengan cepat dan tepat menyelesaikan skripsiku. Amiin. Agar segera juga aku bisa menyusulmu menjadi seorang GURU. Meski sekarang aku masih galau dengan pertanyaan “pantaskah?” untuk diriku sendiri….tapi aku harus memetakannya.
Kamis, 18 Juli 2013
Agar Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik
Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik di Bulan Ramadhan, sejatinya kita diajarkan tentang arti penting kedekatan sebuah hati dengan yang Maha menciptakan.
Ketika kita berpuasa berarti kita membuka ruang yang luas untuk mengistirahatkan pikiran dan menghentikan amarah yang senantiasa menguasai hari- hari kita. seperti itulah, karena manusia seringkali terbentur dengan banyak kepentingan dan urusan, dan tak jarang, hal itu yang kemudian membuka jalannya kepenatan dalam jiwa mereka.
Bulan ramadhan adalah ibarat hadiah bagi seluruh alam. Sungguh berat rasanya jika tiada karunia bulan mulia ini untuk kita para manusia. Betapa tidak, dalam beratnya sebuah kesabaran, namun Ramadhan “memaksakan” jiwa yang bergejolak itu untuk tetap tangguh dalam mengunci mulut dari kata- kata sampah, tetap tersenyum dalam seburuk- buruk hati yang tengah di kuasai oleh kemarahan, dan tetap tenang dalam sebuah gejolak yang mengombang- ambingkan pikiran dan perasaan.
Waktu Yang Mustajab Untuk Berdo'a
Doa adalah sebuah ibadah yang agung. Dimana seorang hamba merasa butuh akan Rabbnya. Di dalam doa terpanjatkan permintaan dan permohonan. Di dalam doa pula seorang hamba mengadu kepada Allah dan sebagai ucapan syukur kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin: 60).
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin: 60).
Di antara waktu-waktu tersebut adalah:
1. Malam (lailatul) Qadar
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, apa petunjukmu bila aku mendapati malam (laitul) Qadar itu, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ucapkanlah (doa):
« اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ».
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai perbuatan memberi maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan An-Nasa`i dalam Al-Kubra)
Langganan:
Postingan (Atom)